Consumers International, federasi organisasi konsumen yang beranggotakan 220 organisasi konsumen dari 157 negara saat ini sedang mengampanyekan “Hentikan Promosi Pangan Tidak Sehat Pada Anak” (Stop Marketing of Unhealthy Food to Children). Latar belakang dari kampanye ini adalah kepedulian terhadap tingginya tingkat obesitas di kalangan anak-anak, terutama di negara berkembang. Isu ini tidak hanya menjadi kekhawatiran negara-negara tertentu, tetapi sudah menjadi perhatian dunia, dan menjadi topik pembahasan di sidang-sidang Organisasi Kesehatan Dunia.
Dari riset-riset yang telah dilakukan, diyakini bahwa salah satu penyebab tingginya obesitas di kalangan anak-anak adalah iklan-iklan produk pangan yang dianggap ‘tidak sehat’ yang ditujukan untuk anak. Berbagai iklan makanan ringan, coklat, permen, minuman, jelas-jelas menargetkan anak-anak. Hal ini bisa dikenali dari model atau tokoh yang digunakan dalam iklan, format iklan, dan sebagainya.
WHO mendefinisikan pangan yang tidak sehat adalah pangan yang tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan atau rendah serat. Di Indonesia, sebuah lembaga perlindungan konsumen YLKI, mempertimbangkan perlu ditambah dengan penggunaan bahan tambahan kimia yang berlebihan. Meskipun WHO belum menetapkan angka tertentu yang dapat digunakan sebagai batasan atau indikator pangan tidak sehat, beberapa negara telah memiliki standar tersebut, diantaranya Inggris, Amerika dan Eropa.
Terkait dengan kampanye yang dilancarkan Consumers International dan anggota-anggotanya, standar kandungan gula, lemak atau garam yang digunakan untuk menetapkan apakah suatu produk dinilai tidak sehat adalah standar yang dikeluarkan oleh pemerintahan Inggris. Standar tersebut adalah sebagai berikut:
Kandungan Rendah Sedang Tinggi
Lemak < 3 g/100 g 3 – 20 g/100 g > 20 g/100 g
Lemak jenuh <1,5 g/100 g 1,5 – 5 g/100 g > 5 g/100 g
Gula < 5 g/100 g 5 -15 g/ 100 g > 15 g/100 g
Natrium <0,12 g/100g 0,12 – 0,60 g/100 g > 0,60 g/100 g
Tinggginya penjualan produk-produk pangan dengan kandungan lemak, gula dan garam yang tinggi, ditambah dengan kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan anak-anak, telah menyebabkan meningkatnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh pola makan seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker. Penyakit-penyakit ini sebenarnya merupakan jenis penyakit yang dapat dicegah apabila pola makan yang sehat telah menjadi perhatian sejak dini.
Kegemukan yang terjadi pada saat kanak-kanak, dapat dipastikan akan terus berlanjut sampai dewasa, dengan risiko berbagai penyakit dan masalah kesehatan jangka panjang. International Obesity Task Force (IOTF) menyatakan, satu diantara sepuluh anak usia sekolah mengalami kelebihan berat badan. Kondisi ini sama artinya dengan 155 juta anak di dunia. Lebih jauh lagi, 22 juta anak usia di bawah lima tahun sudah mangalami kelebihan berat badan dan kegemukan. Dengan berbagai risiko di atas, upaya pencegahan agar tidak terjadi epidemi obesitas perlu dilakukan.
Obesitas bukan hanya masalah penduduk negara-negara maju.
Negara-negara sedang berkembang, yang seringkali mencuatkan kasus gizi buruk atau kurang gizi, ternyata juga tidak terlepas dari permasalahan obesitas ini. Justru negara-negara miskinlah yang paling rentan. Globalisasi, akses informasi yang terbuka lebar, persepsi bahwa gaya hidup ‘modern’ serta produk-produk yang datang dari negara majulah yang lebih baik, merupakan salah satu pemicunya.
Tidak terkecuali Indonesia. Meski belum ada angka nasional, berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan gejala yang patut diwaspadai.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 9.000 siswa SLTP di Yogyakarta dan Bantul pada tahun 2003 menunjukkan bahwa 7 persen remaja di perkotaan dan 2 persen di perdesaan mengalami obesitas. Studi ini menyebutkan, konsumsi energi siswa obesitas sekitar 2.800 kkal, 600 kkal lebih tinggi dari siswa yang tidak mengalami kegemukan. Temuan menarik lain dari studi ini adalah bahwa anak-anak ini mengonsumsi makanan cepat saji 2-3 kali lebih sering dan menonton televisi lebih lama.
Data ini sangat relevan dengan data dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), melalui sebuah laporan mengenai Pemasaran Pangan dan Minuman Non-Alkohol pada Anak yang dilansir pada tahun 2006. Dalam laporan ini disebutkan, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa iklan-iklan pangan yang mengandung lemak, gula dan garam tinggi memiliki efek langsung pada anak untuk mengonsumsi pangan tidak sehat yang dapat menyebabkan obesitas ini. Studi ini juga memperlihatkan bahwa anak-anak jauh lebih menyukai pangan kemasan yang bermerek dibandingkan dengan pangan yang tidak bermerek.
Di antara produk pangan bermerek ini, perusahaan-perusahaan multinasional yang tangan-tangan guritanya ada di mana-mana, diharapkan dapat lebih beretika dalam memasarkan produk-produknya yang tergolong tidak sehat. Meski sebagian dari mereka mengklaim melakukan swaregulasi untuk mengatur praktik-praktik promosi dan pemasarannya, kenyataannya ini tidak terlalu efektif. Sulit dibantah, mereka cenderung mengikuti regulasi negara yang lebih lemah dan longgar, dibandingkan mematuhi aturan internal yang lebih ketat.
Perusahaan-perusahaan pangan terbukti menggunakan seluruh cara untuk membuat anak-anak membeli produk mereka. Advertising Age’s Global Marketers edisi November 2007 menunjukkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan multinasional adalah 7.9 milyar dolar untuk pangan, 4 milyar dolar untuk minuman ringan, dan 1.1 milyar dolar untuk permen dan coklat.
Situasi ini tentu harus dilawan dengan kebijakan internasional, agar anak-anak terlindungi dari praktik pemasaran produk pangan yang dapat digolongkan tidak sehat ini. Oleh karena itu, kampanye global digelar, agar WHO mengeluarkan kode internasional pemasaran pangan untuk anak, seperti yang pernah dilakukan untuk produk pengganti air susu ibu atau susu formula.
Dalam kode ini, diminta pengaturan yang mencakup:
- Pelarangan iklan produk pangan tidak sehat pada televisi dan radio antara jam 6 pagi dan jam 9 malam
- Pelarangan promosi pangan tidak sehat melalui media baru seperti internet dan telepon seluler
- Tidak memasarkan produk-produk tidak sehat di sekolah
- Tidak memberikan hadiah-hadiah gratis, atau mainan yang dapat dikoleksi dalam promosi
- Tidak menggunakan tokoh-tokoh kartun atau model yang disukai anak, lomba-lomba, hadiah langsung, dan sebagainya.
setuju banget dg postingan ini, mas ghosye. anak2 adalah tumpuan masa depan. kalau sampai mereka mengalami pertumbuhan tak wajar akibat salah konsumsi, bisa repot. postingan yang menarik dan mencerahkan.
iya mas, kasihan anak-anak usia sekolah jika selalu direcoki makanan jenis junk food